Senin, 08 Desember 2014

Contoh Surat Lamaran LEPMA

Bekasi, 04 Oktober 2014


Kepada Yth.
Laboratorium Lembaga Pengembangan Manajemen dan Akuntansi
Depok

Dengan Hormat,
Berdasarkan informasi dari studentsite tanggal 03 Oktober 2014, tentang pembukaan lowongan menjadi asisten laboratorium Lembaga Pengembangan Manajemen dan Akuntansi (LEPMA). Dengan ini saya mengajukan permohonan guna mengisi lowongan Asisten Laboratorium  Lembaga Pengembangan Manajemen dan Akuntansi (LEPMA).
Saya siap bekerja sama dengan baik dalam bidang pengembangan manajemen dan akuntansi. Saat ini saya mahasiswa Universitas Gunadarma semester 7 jurusan akuntansi.
Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan:
1.    Curriculum Vitae (CV)
2.    Print asli DNS dan DNU semester terakhir
3.    Foto 4X6 berwarna
4.    Foto copy KRS
5.    Fotocopy Sertifikat kursus maupun workshop
Besar harapan saya untuk diberi kesempatan wawancara, dan dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai diri saya. Demikian surat lamaran ini saya buat dengan sebenarnya. Terima kasih atas perhatiannya.
                                                                            
                                                                                                                       Hormat saya,



  Yunita Resty Damayanti

Minggu, 30 November 2014

STRATEGI PROMOSI DALAM BISNIS ECERAN

STRATEGI PROMOSI
DALAM BISNIS ECERAN


Seorang pengelola toko tentu akan selalu memikirkan bagaimana caranya agar barang-barang dagangannya dapat terjual secara optimal dan memperoleh keuntungan yang cukup signifikan. Agar hal ini dapat tercapai, tentunya diperlukan strategi-strategi tertentu sehingga tujuan pengelola toko dapat tercapai. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut bagaimana sebenarnya proses penjualan eceran tersebut.

1.1 Proses Penjualan Eceran (Retail Selling Process)
Secara umum ada 2 tipe dasar untuk penjualan yaitu inside atau retail (inside) selling dan outside atau specialty (outside) selling. Perbedaan mendasar kedua tipe tersebut adalah pada retail selling konsumen yang potensial atau yang berminat untuk membeli barang langsung datang ke toko kita. Konsumen yang datang umumnya sudah memiliki rencana atau keinginan membeli suatu barang dan di toko tersebut mereka akan dibantu oleh pelayan toko (sales person) sehingga konsumen diharapkan akan merasa nyaman untuk berbelanja. Ada 7 (tujuh) langkah proses penjualan eceran :
1.    Mendekati dan menyapa konsumen (approaching and greeting the customer)
2.    Menentukan kebutuhan dan keinginan konsumen (determining the needs and wants of the customer)
3.    Merekomendasikan barang-barang yang diperdagangkan kepada konsumen (showing recommended merchandise)
4.    Penanganan jika terjadi keberatan konsumen (keberatan mengenai harga, produk, situasi toko, tidak tertarik sama sekali atau tidak membutuhkan sama sekali) – Handling objections
5.    Penyelesaian penjualan (closing the sale), segera meyakinkan konsumen untuk membeli barang yang diminati
6.    Menyarankan konsumen untuk kembali membeli di toko kita (suggesting further purchases)
7.    Following up
Untuk mendukung proses penjualan tersebut agar optimal, tentu diperlukan strategi lain agar volume penjualan dapat meningkat. Strategi yang dimaksud adalah promosi. Promosi sebagai bagian dari strategi pemasaran memegang peranan yang penting bagi kelangsungan usaha suatu toko. Secara spesifik , promosi merupakan elemen dari pemasaran bauran (marketing mix) yang bertujuan untuk memberikan informasi, mengajak dan mengingatkan suatu produk yang dihasilkan dan dijual oleh suatu perusahaan. Bagi suatu toko, konsep dasar tersebut dapat diterapkan untuk promosi usaha toko tersebut secara keseluruhan yaitu promosi tidak hanya satu produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
Pengertian promosi dalam bisnis eceran dalam arti yang luas adalah segala bentuk komunikasi yang diberikan oleh pengecer dalam memberikan informasi, membujuk dan atau meningkatkan para konsumen yang menjadi sasaran pasar tentang segala aspek dari toko eceran tersebut.
Secara umum tujuan dari promosi yaitu menciptakan kesadaran diantara sasaran konsumen akan keberadaan toko, membantu menciptakan citra toko yang diinginkan, meningkatkan jumlah pengunjung, dan meningkatkan penjualan dalam waktu yang singkat.
Ada 5 bentuk promosi yaitu (1) personal selling, (2) advertising, (3) sales promotion, (4) public relations dan (5) Publicity. Masing-masing bentuk memiliki kekhususan sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari toko.
(1) Personal selling adalah bentuk promosi produk secara langsung kepada calon pembeli yang dianggap potensial oleh suatu perusahaan . Teknis pelaksanaannya dapat melalui tatap muka pada tempat-tempat yang dianggap representatif atau dapat dilakukan melalui telepon, atau mendatangi langsung calon pembeli tersebut. Bentuk promosi ini dapat dikatakan bentuk yang relatif lebih banyak membutuhkan biaya jika dibandingkan bentuk promosi lainnya sehingga bagi suatu toko berskala kecil dan menengah, bentuk promosi ini kurang cocok untuk diterapkan.
(2) Advertising, adalah suatu media komunikasi yang bersifat massal dimana suatu sponsor telah menerima sejumlah pembayaran tertentu. Bentuk paling umum yang dapat ditemukan untuk jenis ini yaitu pada televisi dan radio atau pada media cetak (majalah dan surat kabar). Alternatif bentuk lainnya dapat berupa direct mail, atau melalui billboards dan juga buku telepon (halaman kuning). Bentuk promosi jenis ini bagi toko berskala kecil dan menengah dapat diterapkan dalam bentuk direct mail sederhana misalnya pengiriman brosur perkenalan mengenai toko ke rumah-rumah yang relatif dekat dengan lokasi toko oleh lebih dari satu orang kurir, atau bentuk lainnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan toko tersebut.
(3) Sales promotion, adalah suatu aktivitas yang dibuat sedemikian rupa untuk menjadi pelengkap advertising dan sekaligus sebagai media yang dapat memudahkan personnal selling. Kegiatan ini dibiayai oleh sponsor dan kadangkala diberikan insentif tertentu untuk lebih menggairahkan penjualan. Kebanyakan sales promotions yang dilakukan langsung ditujukan pada calon pembeli. Hal ini semata-mata untuk lebih mendorong para distributor untuk lebih meningkatkan volume penjualan. Beberapa aktivitas yang termasuk sales promotions diantaranya yaitu pameran dagang, display barang dalam toko dengan tata letak yang menarik, potongan harga, pemberian sample secara cuma-cuma, serta pemberian kupon undian berhadiah. Aktivitas yang relatif dapat diterapkan pada toko terutama yang berskala kecil dan menengah antara lain, adalah pengaturan tata letak yang menarik, potongan harga pada produk-produk tertentu di toko serta pemberian kupon undian berhadiah. Potongan harga ini tentunya telah memperhitungkan berbagai aspek terutama aspek pembiayaan. Begitupula dengan kupon undian berhadiah, hadiah yang disediakan umumnya dapat diperoleh melalui kerjasama dengan perusahaan rekanan tertentu sehingga unsur biaya dapat ditekan. Aktivitas lainnya dapat diterapkan melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait.
(4) Public relations, memiliki ruang lingkup yang lebih luas dan lebih mengarah ke pembentukan opini bagi perusahaan dan produk yang dihasilkan. Bentuk promosi ini sangat berbeda dengan advertising dan personal selling yaitu tidak ada pesan spesifik mengenai penjualan produk. Target konsumen bisa para pemegang saham, badan usaha milik pemerintah atau kelompok-kelompok usaha tertentu. Public relations dapat berupa newsletter (semacam media cetak nonformal yang beredar terbatas di ruang lingkup usaha atau kegiatan tertentu), annual reports (laporan tahunan), aktivitas lobbying, atau menjadi sponsor untuk suatu acara yang bersifat amal. Bagi toko yang sudah mapan, berada pada skala yang dapat dikatakan besar atau bahkan sudah merupakan bisnis eceran yang sesungguhnya seperti hypermarket, bentuk promosi ini dapat menjadi alternatif yang cukup potensial untuk memberi image bagi konsumen
(5)  Publicity, yaitu bentuk khusus dari public relations dimana intinya adalah terdapat berita atau perkembangan terbaru dari suatu perusahaan atau produk. Berbeda dengan advertising, pada publicity perusahaan atau suatu organisasi tidak perlu mengeluarkan biaya atas pernyataan atau berita yang disampaikan di suatu media sehingga akibatnya perusahaan atau organisasi tersebut tidak mempunyai hak kontrol. Namun karena bentuknya merupakan berita maka publicity memiliki kredibilitas yang lebih jika dibanding dengan advertising. Tentunya perusahaan atau organisasi menginginkan publicity yang baik atau bersifat positif. Sama seperti pada public relations, publicity dapat diterapkan pada tingkat bisnis eceran yang sudah mapan.

1.2 Periklanan Untuk Eceran (Retail Advertising)
Ada dua jenis periklanan yang dapat dipilih oleh pebisnis eceran, yaitu :
1.    Product-Oriented Advertising
Bentuk periklanan jenis ini lebih menitikberatkan pada nama besar (brand name) yang telah dimiliki oleh produk yaitu terutama general product, karena konsumen pada umumnya sangat dipengaruhi oleh brand name ini. Dengan demikian, seorang pebisnis eceran sebaiknya menyadari bahwa brand name sudah ada dan dibentuk dari produsennya (pembuat produk tersebut), sehingga yang harus dilakukan dalam promosi yaitu menarik perhatian konsumen untuk membeli produk yang telah memiliki brand name di toko yang mereka kelola. Selain itu, kata ‘sale’ yang berarti obral dan ‘clearance’ yang berarti cuci gudang kadangkala cukup efektif untuk mengundang konsumen datang ke toko kita. Jika banyak konsumen tertarik untuk masuk ke toko kita, berarti akan tercipta adanya ‘store traffic’ walaupun produk yang diobral sebenarnya hanya produk tertentu saja.
2.    Institusional Advertising
Bentuk periklanan jenis ini menitiberatkan pada nama besar tokonya, bukan pada produk secara khusus. Sebagai contoh, jika suatu toko Keris Galery mengiklankan produk garmen yaitu busana wanita bekerja dengan motif batik, namun ternyata konsumen cenderung mencari produk tersebut di toko Pasaraya yang juga memiliki koleksi busana wanita bekerja dengan motif batik berarti iklan dari toko Keris Galery tersebut tidak mencapai sasaran.

1.3  Proses komunikasi dan promosi
Pada dasarnya komunikasi memiliki 4 elemen yaitu :
(a) message (pesan),
(b) a source of message (sumber pesan),
(c) a communication channel (jalur komunikasi),
(d) a receiver (penerima pesan)
Namun dalam prakteknya ada elemen-elemen tambahan yang mendukung
proses komunikasi tersebut yaitu :
1.    Encoded into a transmittable form , hal ini berarti mengubah ide menjadi katakata,
gambar atau bentuk lain yang lebih sesuai. Sebagai contoh, iklan perusahaan penerbangan United Airlines yang menggunakan kata-kata “Fly the friendly skies” . Bagaimana kira-kira mengubah ide tersebut ke dalam kata-kata atau gambar ?
2.    Decoded , adalah mengartikan suatu simbol menjadi sesuatu yang memiliki arti bagi penerima pesan. Penyampaian pesan ini tentunya melalui jalur komunikasi. Pesan yang diterima haruslah yang sesuai dengan yang dimaksud oleh pengirim pesan atau persepsi lainnya tergantung dari tingkat pengetahuan atau pengalaman penerima. Contohnya, kata-kata “Friendly skies” memiliki arti para pramugari pramugara dan pilot perusahaan United Airlines adalah karyawan yang sangat ramah dan simpatik.
3.    Jika pengiriman pesan telah berhasil maka akan ada perubahan sesuai persepsi penerima yang dipengaruhi oleh pengetahuan, perasaan dan keyakinan penerima pesan. Sebagai hasilnya maka akan timbul Response atau tanggapan dari penerima. Tanggapan ini dapat berupa nonverbal misalnya sikap tersenyum pada saat menyaksikan iklan United Airlines, atau verbalmisalnya menyarankan orang lain untuk menggunakan jasa penerbangan United Airlines atau behavioral misalnya membeli tiket pesawat United Airlines.
4.    Setelah ada response dari penerima pesan maka response tersebut akan menjadi Feedback bagi pengirim pesan. Melalui feedback tersebut maka akan terlihat apakah pesan telah diterima dan bagaimana pesan tersebut diartikan oleh si penerima. Selain itu, dengan adanya feedback maka pengirim pesan yang dalam hal ini adalah perusahaan yang mempromosikan produk akan dapat mempelajari jika penyampaian pesan mengalami kegagalan dan bagaimana memperbaikinya di masa mendatang.
5.    Semua tahapan di atas dapat terganggu oleh adanya Noise yaitu semua faktor eksternal yang berpotensi menggagalkan komunikasi penyampaian pesan. Misalnya bentuk promosi dari perusahaan penerbangan lain yang merupakan pesaing dari United Airlines.

1.4 Tujuan promosi
Secara umum, perusahaan melakukan promosi dengan tujuan untuk dapat lebih memberikan informasi kepada pengambil keputusan yaitu pembeli pada saat proses pengambilan keputusan pembelian suatu produk. Selain itu untuk lebih memberikan penekanan pada ciri khas suatu produk dan mengajak pembeli-pembeli yang potensial.
Dalam konteks pengetahuan ekonomi, tujuan promosi adalah untuk mengubah lokasi dan bentuk dari kurva permintaan (demand/revenue). Secara singkat promosi ditujukan untuk lebih menarik minat para pembeli punya prospek dan potensial.

1.5 Promosi Bauran (promotional mix)
Promosi bauran yaitu kombinasi antara personal selling, periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), public relations dan publicity. Ada 4 faktor yang dapat digunakan untuk menentukan promosi bauran yaitu (1) target pasar, (2) produk yang akan dipromosikan, (3) tahapan siklus perkembangan produk, (4) dana yang tersedia untuk promosi
(1) Target pasar
Ada kurang lebih 4 faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan metode promosi untuk
pasar tertentu :
Kesiapan untuk membeli (readiness to buy), ada 6 tahapan yang terdapat dalam faktor ini yaitu awareness (kesadaran untuk membeli), knowledge (pengetahuan yang dimiliki), liking (menyukai) , preference (pilihan), conviction (keinginan), dan purchase (membeli), Letak geografis, sebagai contoh pada lokasi A peluang untuk menjual buah jeruk lebih baik dibandingkan dengan lokasi lain. Hal ini disebabkan pada lokasi A terdapat pabrik yang memproduksi minuman sari buah, Tipe konsumen, konsumen memiliki keberagaman keinginan dan sifat-sifat tertentu, sehingga pasar dengan hanya satu tipe konsumen akan lebih mudah menerapkan promosi bauran Konsentrasi pasar, dengan diketahuinya jumlah pembeli potensial maka pertimbangan untuk penentuan penerapan promosi bauran dapat diputuskan lebih mudah. Sebagai contoh, makin sedikit pembeli potensial yang ada maka promosi yang dilakukan akan lebih efektif dengan personal selling, jika dibandingkan dengan advertising
(2) Produk, hal-hal yang mempengaruhi strategi promosi diantaranya yaitu jumlah produk (unit value), degree of customization, dan pelayanan sebelum penjualan dan pelayanan purna jual . Jumlah produk yang relatif kecil maka penanganan promosinya juga lebih sederhana, risiko yang terjadi juga relatif kecil namun untuk tetap bertahan kegiatan promosi tetap harus dilakukan. Promosi yang dilakukan untuk kondisi ini adalah dengan personal selling, bukan bauran promosi. Jika suatu produk harus adaptasi secara khusus sesuai dengan keperluan konsumen maka jenis promosi yang dapat dilakukan juga dalam bentuk personal selling. Misalnya promosi untuk penjualan pakaian yang relatif mahal atau pakaian khusus untuk aktivitas tertentu. Produk yang promosinya harus didemontrasikan atau diperagakan juga tidak dapat menerapkan promosi bauran, yang lebih sesuai jenis promosinya adalah melalui personal selling
(3) Tahapan siklus perkembangan produk, strategi promosi dipengaruhi oleh siklus perkembangan produk . Pada saat produk baru diperkenalkan, pembeli potensial harus mendapatkan informasi yang rinci. Iklan (advertising) dan personal selling sangat penting dilakukan pada tahapan perkenalan produk.
(4)  Dana yang tersedia, faktor ini sangat menentukan dapat diterapkannya promosi bauran. Jika perusahaan hanya memiliki dana yang relatif terbatas maka alternatif kegiatan promosi dapat dipilih bentuk lain yang lebih sesuai.

1.6 Pull Strategi dan Push Strategi
Suatu strategi promosi yang ditujukan langsung kepada konsumen (end users) disebut dengan pull strategy, maksudnya adalah memotivasi/mendorong konsumen untuk mendapatkan informasi lebih lanjut kepada pihak pengecer produk tersebut. Sedangkan push strategy yaitu mendorong promosi melalui saluran distribusi dari produk Sebagai contoh produsen mempromosikan produk kepada distributor, selanjutnya promosi dapat dilanjutkan ke pengecer, dan pengecer mempromosikannya ke konsumen.



STRATEGI PROMOSI DALAM BISNIS ECERAN

STRATEGI PROMOSI
DALAM BISNIS ECERAN


Seorang pengelola toko tentu akan selalu memikirkan bagaimana caranya agar barang-barang dagangannya dapat terjual secara optimal dan memperoleh keuntungan yang cukup signifikan. Agar hal ini dapat tercapai, tentunya diperlukan strategi-strategi tertentu sehingga tujuan pengelola toko dapat tercapai. Berikut ini akan dibahas lebih lanjut bagaimana sebenarnya proses penjualan eceran tersebut.

1.1 Proses Penjualan Eceran (Retail Selling Process)
Secara umum ada 2 tipe dasar untuk penjualan yaitu inside atau retail (inside) selling dan outside atau specialty (outside) selling. Perbedaan mendasar kedua tipe tersebut adalah pada retail selling konsumen yang potensial atau yang berminat untuk membeli barang langsung datang ke toko kita. Konsumen yang datang umumnya sudah memiliki rencana atau keinginan membeli suatu barang dan di toko tersebut mereka akan dibantu oleh pelayan toko (sales person) sehingga konsumen diharapkan akan merasa nyaman untuk berbelanja. Ada 7 (tujuh) langkah proses penjualan eceran :
1.    Mendekati dan menyapa konsumen (approaching and greeting the customer)
2.    Menentukan kebutuhan dan keinginan konsumen (determining the needs and wants of the customer)
3.    Merekomendasikan barang-barang yang diperdagangkan kepada konsumen (showing recommended merchandise)
4.    Penanganan jika terjadi keberatan konsumen (keberatan mengenai harga, produk, situasi toko, tidak tertarik sama sekali atau tidak membutuhkan sama sekali) – Handling objections
5.    Penyelesaian penjualan (closing the sale), segera meyakinkan konsumen untuk membeli barang yang diminati
6.    Menyarankan konsumen untuk kembali membeli di toko kita (suggesting further purchases)
7.    Following up
Untuk mendukung proses penjualan tersebut agar optimal, tentu diperlukan strategi lain agar volume penjualan dapat meningkat. Strategi yang dimaksud adalah promosi. Promosi sebagai bagian dari strategi pemasaran memegang peranan yang penting bagi kelangsungan usaha suatu toko. Secara spesifik , promosi merupakan elemen dari pemasaran bauran (marketing mix) yang bertujuan untuk memberikan informasi, mengajak dan mengingatkan suatu produk yang dihasilkan dan dijual oleh suatu perusahaan. Bagi suatu toko, konsep dasar tersebut dapat diterapkan untuk promosi usaha toko tersebut secara keseluruhan yaitu promosi tidak hanya satu produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
Pengertian promosi dalam bisnis eceran dalam arti yang luas adalah segala bentuk komunikasi yang diberikan oleh pengecer dalam memberikan informasi, membujuk dan atau meningkatkan para konsumen yang menjadi sasaran pasar tentang segala aspek dari toko eceran tersebut.
Secara umum tujuan dari promosi yaitu menciptakan kesadaran diantara sasaran konsumen akan keberadaan toko, membantu menciptakan citra toko yang diinginkan, meningkatkan jumlah pengunjung, dan meningkatkan penjualan dalam waktu yang singkat.
Ada 5 bentuk promosi yaitu (1) personal selling, (2) advertising, (3) sales promotion, (4) public relations dan (5) Publicity. Masing-masing bentuk memiliki kekhususan sendiri yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari toko.
(1) Personal selling adalah bentuk promosi produk secara langsung kepada calon pembeli yang dianggap potensial oleh suatu perusahaan . Teknis pelaksanaannya dapat melalui tatap muka pada tempat-tempat yang dianggap representatif atau dapat dilakukan melalui telepon, atau mendatangi langsung calon pembeli tersebut. Bentuk promosi ini dapat dikatakan bentuk yang relatif lebih banyak membutuhkan biaya jika dibandingkan bentuk promosi lainnya sehingga bagi suatu toko berskala kecil dan menengah, bentuk promosi ini kurang cocok untuk diterapkan.
(2) Advertising, adalah suatu media komunikasi yang bersifat massal dimana suatu sponsor telah menerima sejumlah pembayaran tertentu. Bentuk paling umum yang dapat ditemukan untuk jenis ini yaitu pada televisi dan radio atau pada media cetak (majalah dan surat kabar). Alternatif bentuk lainnya dapat berupa direct mail, atau melalui billboards dan juga buku telepon (halaman kuning). Bentuk promosi jenis ini bagi toko berskala kecil dan menengah dapat diterapkan dalam bentuk direct mail sederhana misalnya pengiriman brosur perkenalan mengenai toko ke rumah-rumah yang relatif dekat dengan lokasi toko oleh lebih dari satu orang kurir, atau bentuk lainnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan toko tersebut.
(3) Sales promotion, adalah suatu aktivitas yang dibuat sedemikian rupa untuk menjadi pelengkap advertising dan sekaligus sebagai media yang dapat memudahkan personnal selling. Kegiatan ini dibiayai oleh sponsor dan kadangkala diberikan insentif tertentu untuk lebih menggairahkan penjualan. Kebanyakan sales promotions yang dilakukan langsung ditujukan pada calon pembeli. Hal ini semata-mata untuk lebih mendorong para distributor untuk lebih meningkatkan volume penjualan. Beberapa aktivitas yang termasuk sales promotions diantaranya yaitu pameran dagang, display barang dalam toko dengan tata letak yang menarik, potongan harga, pemberian sample secara cuma-cuma, serta pemberian kupon undian berhadiah. Aktivitas yang relatif dapat diterapkan pada toko terutama yang berskala kecil dan menengah antara lain, adalah pengaturan tata letak yang menarik, potongan harga pada produk-produk tertentu di toko serta pemberian kupon undian berhadiah. Potongan harga ini tentunya telah memperhitungkan berbagai aspek terutama aspek pembiayaan. Begitupula dengan kupon undian berhadiah, hadiah yang disediakan umumnya dapat diperoleh melalui kerjasama dengan perusahaan rekanan tertentu sehingga unsur biaya dapat ditekan. Aktivitas lainnya dapat diterapkan melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait.
(4) Public relations, memiliki ruang lingkup yang lebih luas dan lebih mengarah ke pembentukan opini bagi perusahaan dan produk yang dihasilkan. Bentuk promosi ini sangat berbeda dengan advertising dan personal selling yaitu tidak ada pesan spesifik mengenai penjualan produk. Target konsumen bisa para pemegang saham, badan usaha milik pemerintah atau kelompok-kelompok usaha tertentu. Public relations dapat berupa newsletter (semacam media cetak nonformal yang beredar terbatas di ruang lingkup usaha atau kegiatan tertentu), annual reports (laporan tahunan), aktivitas lobbying, atau menjadi sponsor untuk suatu acara yang bersifat amal. Bagi toko yang sudah mapan, berada pada skala yang dapat dikatakan besar atau bahkan sudah merupakan bisnis eceran yang sesungguhnya seperti hypermarket, bentuk promosi ini dapat menjadi alternatif yang cukup potensial untuk memberi image bagi konsumen
(5)  Publicity, yaitu bentuk khusus dari public relations dimana intinya adalah terdapat berita atau perkembangan terbaru dari suatu perusahaan atau produk. Berbeda dengan advertising, pada publicity perusahaan atau suatu organisasi tidak perlu mengeluarkan biaya atas pernyataan atau berita yang disampaikan di suatu media sehingga akibatnya perusahaan atau organisasi tersebut tidak mempunyai hak kontrol. Namun karena bentuknya merupakan berita maka publicity memiliki kredibilitas yang lebih jika dibanding dengan advertising. Tentunya perusahaan atau organisasi menginginkan publicity yang baik atau bersifat positif. Sama seperti pada public relations, publicity dapat diterapkan pada tingkat bisnis eceran yang sudah mapan.

1.2 Periklanan Untuk Eceran (Retail Advertising)
Ada dua jenis periklanan yang dapat dipilih oleh pebisnis eceran, yaitu :
1.    Product-Oriented Advertising
Bentuk periklanan jenis ini lebih menitikberatkan pada nama besar (brand name) yang telah dimiliki oleh produk yaitu terutama general product, karena konsumen pada umumnya sangat dipengaruhi oleh brand name ini. Dengan demikian, seorang pebisnis eceran sebaiknya menyadari bahwa brand name sudah ada dan dibentuk dari produsennya (pembuat produk tersebut), sehingga yang harus dilakukan dalam promosi yaitu menarik perhatian konsumen untuk membeli produk yang telah memiliki brand name di toko yang mereka kelola. Selain itu, kata ‘sale’ yang berarti obral dan ‘clearance’ yang berarti cuci gudang kadangkala cukup efektif untuk mengundang konsumen datang ke toko kita. Jika banyak konsumen tertarik untuk masuk ke toko kita, berarti akan tercipta adanya ‘store traffic’ walaupun produk yang diobral sebenarnya hanya produk tertentu saja.
2.    Institusional Advertising
Bentuk periklanan jenis ini menitiberatkan pada nama besar tokonya, bukan pada produk secara khusus. Sebagai contoh, jika suatu toko Keris Galery mengiklankan produk garmen yaitu busana wanita bekerja dengan motif batik, namun ternyata konsumen cenderung mencari produk tersebut di toko Pasaraya yang juga memiliki koleksi busana wanita bekerja dengan motif batik berarti iklan dari toko Keris Galery tersebut tidak mencapai sasaran.

1.3  Proses komunikasi dan promosi
Pada dasarnya komunikasi memiliki 4 elemen yaitu :
(a) message (pesan),
(b) a source of message (sumber pesan),
(c) a communication channel (jalur komunikasi),
(d) a receiver (penerima pesan)
Namun dalam prakteknya ada elemen-elemen tambahan yang mendukung
proses komunikasi tersebut yaitu :
1.    Encoded into a transmittable form , hal ini berarti mengubah ide menjadi katakata,
gambar atau bentuk lain yang lebih sesuai. Sebagai contoh, iklan perusahaan penerbangan United Airlines yang menggunakan kata-kata “Fly the friendly skies” . Bagaimana kira-kira mengubah ide tersebut ke dalam kata-kata atau gambar ?
2.    Decoded , adalah mengartikan suatu simbol menjadi sesuatu yang memiliki arti bagi penerima pesan. Penyampaian pesan ini tentunya melalui jalur komunikasi. Pesan yang diterima haruslah yang sesuai dengan yang dimaksud oleh pengirim pesan atau persepsi lainnya tergantung dari tingkat pengetahuan atau pengalaman penerima. Contohnya, kata-kata “Friendly skies” memiliki arti para pramugari pramugara dan pilot perusahaan United Airlines adalah karyawan yang sangat ramah dan simpatik.
3.    Jika pengiriman pesan telah berhasil maka akan ada perubahan sesuai persepsi penerima yang dipengaruhi oleh pengetahuan, perasaan dan keyakinan penerima pesan. Sebagai hasilnya maka akan timbul Response atau tanggapan dari penerima. Tanggapan ini dapat berupa nonverbal misalnya sikap tersenyum pada saat menyaksikan iklan United Airlines, atau verbalmisalnya menyarankan orang lain untuk menggunakan jasa penerbangan United Airlines atau behavioral misalnya membeli tiket pesawat United Airlines.
4.    Setelah ada response dari penerima pesan maka response tersebut akan menjadi Feedback bagi pengirim pesan. Melalui feedback tersebut maka akan terlihat apakah pesan telah diterima dan bagaimana pesan tersebut diartikan oleh si penerima. Selain itu, dengan adanya feedback maka pengirim pesan yang dalam hal ini adalah perusahaan yang mempromosikan produk akan dapat mempelajari jika penyampaian pesan mengalami kegagalan dan bagaimana memperbaikinya di masa mendatang.
5.    Semua tahapan di atas dapat terganggu oleh adanya Noise yaitu semua faktor eksternal yang berpotensi menggagalkan komunikasi penyampaian pesan. Misalnya bentuk promosi dari perusahaan penerbangan lain yang merupakan pesaing dari United Airlines.

1.4 Tujuan promosi
Secara umum, perusahaan melakukan promosi dengan tujuan untuk dapat lebih memberikan informasi kepada pengambil keputusan yaitu pembeli pada saat proses pengambilan keputusan pembelian suatu produk. Selain itu untuk lebih memberikan penekanan pada ciri khas suatu produk dan mengajak pembeli-pembeli yang potensial.
Dalam konteks pengetahuan ekonomi, tujuan promosi adalah untuk mengubah lokasi dan bentuk dari kurva permintaan (demand/revenue). Secara singkat promosi ditujukan untuk lebih menarik minat para pembeli punya prospek dan potensial.

1.5 Promosi Bauran (promotional mix)
Promosi bauran yaitu kombinasi antara personal selling, periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), public relations dan publicity. Ada 4 faktor yang dapat digunakan untuk menentukan promosi bauran yaitu (1) target pasar, (2) produk yang akan dipromosikan, (3) tahapan siklus perkembangan produk, (4) dana yang tersedia untuk promosi
(1) Target pasar
Ada kurang lebih 4 faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan metode promosi untuk
pasar tertentu :
Kesiapan untuk membeli (readiness to buy), ada 6 tahapan yang terdapat dalam faktor ini yaitu awareness (kesadaran untuk membeli), knowledge (pengetahuan yang dimiliki), liking (menyukai) , preference (pilihan), conviction (keinginan), dan purchase (membeli), Letak geografis, sebagai contoh pada lokasi A peluang untuk menjual buah jeruk lebih baik dibandingkan dengan lokasi lain. Hal ini disebabkan pada lokasi A terdapat pabrik yang memproduksi minuman sari buah, Tipe konsumen, konsumen memiliki keberagaman keinginan dan sifat-sifat tertentu, sehingga pasar dengan hanya satu tipe konsumen akan lebih mudah menerapkan promosi bauran Konsentrasi pasar, dengan diketahuinya jumlah pembeli potensial maka pertimbangan untuk penentuan penerapan promosi bauran dapat diputuskan lebih mudah. Sebagai contoh, makin sedikit pembeli potensial yang ada maka promosi yang dilakukan akan lebih efektif dengan personal selling, jika dibandingkan dengan advertising
(2) Produk, hal-hal yang mempengaruhi strategi promosi diantaranya yaitu jumlah produk (unit value), degree of customization, dan pelayanan sebelum penjualan dan pelayanan purna jual . Jumlah produk yang relatif kecil maka penanganan promosinya juga lebih sederhana, risiko yang terjadi juga relatif kecil namun untuk tetap bertahan kegiatan promosi tetap harus dilakukan. Promosi yang dilakukan untuk kondisi ini adalah dengan personal selling, bukan bauran promosi. Jika suatu produk harus adaptasi secara khusus sesuai dengan keperluan konsumen maka jenis promosi yang dapat dilakukan juga dalam bentuk personal selling. Misalnya promosi untuk penjualan pakaian yang relatif mahal atau pakaian khusus untuk aktivitas tertentu. Produk yang promosinya harus didemontrasikan atau diperagakan juga tidak dapat menerapkan promosi bauran, yang lebih sesuai jenis promosinya adalah melalui personal selling
(3) Tahapan siklus perkembangan produk, strategi promosi dipengaruhi oleh siklus perkembangan produk . Pada saat produk baru diperkenalkan, pembeli potensial harus mendapatkan informasi yang rinci. Iklan (advertising) dan personal selling sangat penting dilakukan pada tahapan perkenalan produk.
(4)  Dana yang tersedia, faktor ini sangat menentukan dapat diterapkannya promosi bauran. Jika perusahaan hanya memiliki dana yang relatif terbatas maka alternatif kegiatan promosi dapat dipilih bentuk lain yang lebih sesuai.

1.6 Pull Strategi dan Push Strategi
Suatu strategi promosi yang ditujukan langsung kepada konsumen (end users) disebut dengan pull strategy, maksudnya adalah memotivasi/mendorong konsumen untuk mendapatkan informasi lebih lanjut kepada pihak pengecer produk tersebut. Sedangkan push strategy yaitu mendorong promosi melalui saluran distribusi dari produk Sebagai contoh produsen mempromosikan produk kepada distributor, selanjutnya promosi dapat dilanjutkan ke pengecer, dan pengecer mempromosikannya ke konsumen.



Atribut dan Kode Etik Akuntan Forensik serta Standar Audit Investigatif

Atribut dan Kode Etik Akuntan Forensik serta Standar Audit Investigatif



A.  Atribut Seorang Akuntan Forensik
1)   Pertama menghindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara prematur. Identifikasi lebih dahulu siapa pelakunya.
2)   Kedua fraud auditor harus mampu membuktikan “niat pelaku melakukan kecurangan”.
3)   Ketiga,seorang auditor harus kreatif,berpikir seperti pelaku fraud,jangan dapat ditebak.
4)   Keempat,auditor harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan persekongkolan.
5)   Kelima,dalam memilih strategi untuk menemukan kecurangan dalam ininvestigasi proaktif.

Dari nasihat tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
a.    Dari awal upayakan menduga siapa pelaku.
b.    Fokus pada pengambilan bukti dan barang bukti untuk pengadilan.
c.    Kreatif, jangan dapat ditebak.
d.   Investigator harus memiliki intuisi yang tajam untuk merumuskan teori mengenai persengkongkolan.
e.    Kenali pola fraud.

B.  Karakteristik Seorang Pemeriksa Fraud
·      Pemeriksa fraud harus memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan untuk memastikan kebenaran dari fakta yang dikumpulkan dan kemudian melaporkan fakta-fakta itu secara akurat dan tepat.
·      Memiliki kepribadian yang menarik dan mampu memotivasi orang lain untuk membantunya.
·      Memiliki kemampuan teknis untuk mengerti konsep-konsep keuangan dan mampu untuk menarik kesimpulan.

C.  Kualitas Akuntan Forensik
·      Kreatif
·      Rasa ingin tahu,
·      Tak mudah menyerah,
·      Memiliki akal sehat,
·      Business sense, dan
·      Percaya diri

D.  Independen, Objektif, Dan Skeptis
Sikap tersebut  merupaka sikap yang harus melekat pada diri seorang auditor. Ketiganya juga tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan akuntan forensik.

E.  Kode Etik Akuntan Forensik
Kode etik ini berisi nilai-nilai luhur yang amat penting bagi eksistensi profesi. Profesi bias eksis karena ada integritas (sikap jujur),rasa hormat dan kehoprmatan,dan nilai-nilai luhur lainnya yang menciptakan rasa percaya dari pengguna dan stackholders lainnya.

F.   Standar Audit Investigatif
·      Seluruh investigasi harus dilandasi praktik terbaik yang diakui
·      Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian sehingga bukti tadi dapat diterima di pengadilan
·      Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman,terlindungi dan diindeks dan dijejak audit tersedia.
·      Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak asasi pegawai dan senantiasa menghormatinya.
·      Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan.
·      Cakup seluruh subsatnsi investigasi
·      Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi.



Sumber:


Sabtu, 29 November 2014

Tugas Paper_Etika Profesi Akuntansi

PENGARUH STANDAR AUDIT, KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT  DENGAN ETIKA AUDITOR


Latar Belakang
Laporan keuangan menyediakan berbagai informasi keuangan yang bersifat kuantitatif dan diperlukan sebagai sarana pengambilan keputusan baik oleh pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Menurut FASB, ada dua karakteristik terpenting yang harus ada dalam laporan keuangan yakni relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable). Kedua karakteristik tersebut sangatlah sulit untuk diukur, sehingga para pemakai informasi membutuhkan jasa pihak ketiga yaitu auditor independen untuk memberi jaminan bahwa laporan keuangan tersebut memang relevan dan dapat diandalkan serta dapat meningkatkan kepercayaan semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut (Singgih dan Bawono, 2010). Auditor independen juga sering disebut sebagai akuntan publik.
Laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kewajarannya akan lebih dipercaya daripada laporan keuangan yang belum diaudit. Hal ini karena para pengguna laporan audit mengharapkan bahwa hasil laporan keuangan uang telah diaudit bebas dari salah saji material, dapat dipercaya kebenarannya untuk dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan dan telah sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia.
Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Masyarakat mengharapkan penilaian bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan.
Dalam melaksanakan pekerjaannya, akuntan publik dituntut untuk dapat lebih meingkatkan kemampuan dan profesionalismenya dalam memberikan jasa. Akuntan publik untuk memiliki dedikasi terhadap profesinya mengikuti kode etik yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Standar-standar audit tersebut menjadi pedoman utama dan harus di ikuti dan di patuhi oleh akuntan publik dalam menjalankan penugasan audit. Standar audit  dengan etika profesi akuntnasi sangat berkaitan erat, karena audit merupakan  salah satu kegiatan yang di lakukan oleh seorang yang mempunyai profesi akuntasi. Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi yang di sajikan.
Namun selain standar audit, akuntan publik juga harus mematuhi kode etik profesi yang mengatur perilaku akuntan publik dalam menjalankan praktik profesinya baik dengan sesama anggota maupun dengan masyarakat umum. Kode etik ini mengatur tentang tanggung jawab profesi, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku profesional serta standar teknis bagi seorang auditor dalam menjalankan profesinya (Elfarini, 2007).
Menurut Libby dan Frederick (1990) pengalaman yang dimiliki auditor akan mempengaruhi kualitas auditnya, mereka menemukan bahwa semakin banyak pengalaman auditor semakin dapat menghasilkan berbagai dugaan dalam menjelaskan temuan audit. Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja auditor (Bonner, 1990; Ashton, 1991; Choo dan Trotman, 1991; Tubbs, 1992; Abdolmohammadi dan Wright, 1987).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas audit adalah time budget pressure (tekanan anggaran waktu). Menurut Waggoner et.al (1991), jika alokasi waktu untuk penugasan tidak cukup, maka auditor mungkin mengkompensasikan dengan kerja mereka dengan cepat, dan hanya menyelesaikan tugas-tugas yang penting saja sehingga mungkin menghasilkan kinerja yang tidak efektif. Dezoort (1998) menyatakan bahwa adalah hal yang umum ditemukan bahwa di bawah tekanan anggaran waktu, individu cenderung akan bekerja dengan cepat sehingga akan berdampak pada penurunan kinerjanya. Time budget pressure akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap kualitas pekerjaan audit. Sebagian besar penelitian mengindikasikan bahwa tekanan waktu bisa mendorong perilaku disfungsional antara lain terjadinya premature sign-off dan under-reporting of chargeable time (Kelly dan Margheim, 1990; Glover, 1997; Dezoort, 1998; Soobaroyen dan Chengabroyan, 2005).
Seringkali dalam pelaksanaan aktivitas auditing, seorang auditor berada dalam konflik audit (Nichols dan Price,1976). Konflik dalam sebuah audit akan berkembang pada saat auditor mengungkapkan informasi tetapi informasi tersebut oleh klien tidak ingin dipublikasikan kepada umum. Konflik ini akan menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang menyangkut independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yang mungkin terjadi di sisi lainnya. Pengembangan dan kesadaran etis/moral memainkan peran kunci dalam semua area profesi akuntansi (Louwers et.al, 1997). Akuntan secara terus menerus berhadapan dengan dilema etika yang melibatkan pilihan antara nilai-nilai yang bertentangan. Pertimbangan profesional berlandaskan pada nilai dan keyakinan individu, sehingga kesadaran etika/moral memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan dalam pekerjaan audit (Deis & Giroux, 1992; Shaub & Lawrence, 1996; Trevino, 1986).
Berdasarkan berbagai teori kualitas audit dan penelitian-penelitian di atas, maka penelitian ini
mencoba meneliti “PENGARUH STANDAR AUDIT, KOMPETENSI, DAN INDEPENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT DENGAN ETIKA AUDITOR”.



Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menguji dan menganalisis apakah standar audit, kompetensi, dan independensi berpengaruh terhadap kualitas audit dengan etika auditor.



Metode Penelitian
Data digunakan merupakan data sekunder berdasarkan lima jurnal. Metode penelitian Uji T, Uji F, Regresi Linier Berganda, Analisis Uji Interaksi Variabel Moderating, Uji Heteroskedastisitas, Uji Multikolinearitas, Uji Normalitas, Pengujian Asumsi Klasik, Pengujian Reliabilitas, Pengujian Validitas, Uji Kualitas Data, Statistik Deskriptif.
Metode Pengumpulan Data, data dikumpulkan melalui metode survei, yaitu menyebarkan daftar pertanyaan (kuesioner) yang akan diisi atau dijawab oleh responden.




Hasil Penelitian
Hasil pengujian validitas data menunjukkan bahwa semua (enam) item pertanyaan untuk variabel pengalaman valid. Semua (empat) item pertanyaan untuk mengukur time budget pressure valid. Sedangkan untuk variabel etika auditor terdapat satu item pertanyaan untuk dimensi locus of control yang tidak valid sehingga di keluarkan dari data yang digunakan. Hasil pengujian validitas untuk variabel kualiatas audit menunjukkan semua pertanyaan valid. Hasil pengujian reliabilitas menunjukkan bahwa semua variabel yang digunakan reliabel.
            Berdasarkan hasil output regresi diperoleh hubungan positif yang kuat antara pengalaman dengan kualitas audit sebesar 0,664. Hubungan positif yang sedang antara etika auditor dengan kualitas audit sebesar 0,573, hubungan positif yang sedang antara pengalaman dengan etika auditor
sebesar 0,475. Hubungan negatif yang sedang antara time budget pressure dengan kualitas audit sebesar -0,453. Hasil perhitungan menunjukkan koefisien jalur pengalaman terhadap kualitas audit sebesar 0,485, koefisien jalur time budget pressure terhadap kualitas audit sebesar -0,286, dan koefisien jalur etika auditor terhadap kualitas audit sebesar 0,261.
            Pengujian hipotesis pertama menggunakan data Fhitung dan Ftabel. Ftabel untuk tingkat signifikansi 0,05 dan derajat bebas db1 = 3 dan db2 = 85-3-1 = 81, diperoleh F 0,05(3,81) = 2,72. Karena Fhitung lebih besar dari Ftabel (40,692 > 2,72) maka dapat diambil keputusan untuk menolak H0. Berdasarkan hasil uji empiris diperoleh nilai F untuk model sebesar 40,692 dengan nilai probabilitas (sig) 0,000. Karena nilai sig < 0,05, maka Ho ditolak dan pengujian secara individual dapat dilakukan. Dengan demikian hipotesis pertama dalam penelitian ini (H1) diterima (terbukti), sehingga dapat disimpulkan bahwa pengalaman, time budget pressure dan etika auditor secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.
            Pengujian hipotesis kedua menggunakan data thitung dan ttabel. Berdasarkan hasil perhitungan nilai koefisien jalur variabel pengalaman ke kualitas audit sebesar 0,485 (t = 6,073; P = 0,000), koefisien jalur benilai positif (0,485). Pengujian parsial diketahui bahwa untuk variabel pengalaman thitung > ttabel (6,073 > 1,6639) dan dapat juga dilihat tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05). Hasil menunjukkan koefisien jalur pengalaman ke kualitas secara statistik signifikan (Ho ditolak). Pengalaman kerja telah dipandang sebagai suatu faktor penting dalam memprediksi kinerja auditor. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Choo & Trotman (1991), Boner & Lewis (1990) dan Abdolmohammadi & Wright (1987) memberikan bukti empiris bahwa auditor berpengalaman lebih banyak menemukan item-item yang tidak umum (atypical) dibandingkan auditor yang kurang berpengalaman, dampak pengalaman auditor akan signifikan terhadap hasil kinerja auditor, mereka juga menyimpulkan bahwa staf yang berpengalaman akan memberikan pendapat yang berbeda dengan staf junior untuk tugas-tugas yang sifatnya terstruktur.
            Pengujian hipotesis kedua untuk variabel time budget pressure menunjukkan nilai koefisien
jalur time budget pressure ke kualitas audit sebesar -0,285 (t = -3,894 ; P = 0,000), koefisien jalur benilai negatif (-0,285). Berdasarkan hasil perhitungan juga diketahui bahwa thitung > ttabel (3,894 > 1,6639) dan dapat juga dilihat tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05). Hasil menunjukkan koefisien jalur time budget pressure ke kualitas audit secara statistik signifikan (Ho ditolak). Jadi dapat disimpulkan bahwa time budget pressure berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas audit. Semakin tinggi time budget pressure maka semakin rendah kualitas audit. Walaupun sebagian besar auditor tidak melakukan prematur sign-off, akan tetapi terdapat jumlah yang cukup banyak yang menyatakan kadang-kadang juga melakukannya 38,8 persen. Sebagian besar (74,1 persen) auditor menyatakan sering memenuhi anggaran biaya jika mencatat waktu yang dilakukan untuk melakukan audit.
            Berdasarkan hasil uji empiris diperoleh nilai koefisien jalur etika auditor kepada kualitas audit sebesar 0,261 (t = 3,186 ; P = 0,002), koefisien jalur benilai positif (0,261). Hasil perhitungan juga menunjukkan bahwa thitung > ttabel (3,186 > 1,6639) dan dapat juga dilihat tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,002 < 0,05). Hasil menunjukkan koefisien jalur etika auditor kepada kualitas audit secara  statistic signifikan (Ho ditolak). Jadi dapat disimpulkan bahwa etika auditor berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit. Semakin tinggi etika auditor maka semakin tinggi kualitas audit.
          Menurut Ziegenfuss & Singhapakdi (1994) bahwa orientasi etika auditor mempunyai hubungan positif dengan perilaku pengambilan keputusan etis. Auditor dengan skor idealisme yang tinggi akan cenderung membuat keputusan yang secara absolut lebih bermoral (favor moral absolute) dan sebaliknya.




Kesimpulan
Pengalaman audit, time budget pressure dan etika auditor secara parsial berpengaruh terhadap kualitas audit. Pengalaman audit memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap kualitas audit, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pengalaman audit maka akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas audit. Time budget pressure berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas audit, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tekanan anggaran waktu maka akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas audit. Etika auditor berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas audit, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi etika auditor maka akan berpengaruh terhada meningkatknya kualitas audit.



Saran
Adanya pengaruh positif dari pengalaman terhadap kualitas audit maka disarankan kepada kantor akuntan publik untuk memberikan penugasan audit yang memiliki kompleksitas tugas audit yang tinggi kepada auditor yang sudah memiliki pengalaman audit, baik pengalaman dari sisi lama melakukan  audit,pengalaman dari jumlah klien yang diaudit dan pengalaman dari jenis perusahaan yang diaudit. Hasil penelitian yang menunjukkan terdapat pengaruh negatif time budget pressure terhadap kualitas audit, maka hal ini tentunya perlu menjadi perhatian perusahaan auditor untuk lebih memperhatikan penyusunan rencana anggaran auditnya baik dalam hal anggaran waktu audit maupun penyusunan rencana anggaran biaya audit. Pelaksanaan audit tidak mengalami tekanan anggaran waktu yang berlebihan yang dapat mengancam kualitas audit.




Judul Referensi:
1.    PENGARUH KOMPETENSI, INDEPENDENSI, OBJEKTIVITAS, AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS TERHADAP KUALITAS AUDIT DENGAN ETIKA AUDITOR SEBAGAI VARIABEL MODERASI (Studi Empiris KAP di Semarang).
2.    PENGARUH TEKANAN ANGGARAN WAKTU, TIPE KEPRIBADIAN AUDITOR, INDEPENDENSI DAN KOMPETENSI TERHADAP KUALITAS AUDIT (Studi Empiris pada Auditor KAP Di Semarang)

3.    Pengaruh Pengalaman Time Budget Pressure dan Etika Auditor terhadap Kualitas Audit (The Effect Of Audit Experience Time Budget Pressure, and Auditors’ Ethics On Audit Quality)

4.    Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit

5.    PENGARUH INDEPENDENSI , PROFESIONALISME, DAN ETIKA PROFESI TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI BALI

Post-post